KISAH DYATLOV PASS - 9 PENDAKI YANG M4T1 SECARA TAK WAJAR!

Dyatlov Pass, sekelompok pendaki gunung professional yang terdiri dari 10 orang. 9 orang meninggal saat melakukan pendakian, tepatnya Gunung Ortoten. Banyak teori tentang kasus ini, kira-kira 75 teori. Mari kita pecahkan bersama hingga kamu terjaga. 

Go to link

Sebelum mulai, kita kenalan dulu sama para pendakinya, 8 men & 2 women.

1) Igor Dyatlov, 23 tahun
    — ketuanya, paling berpengalaman.
    — jurusan teknik radio.
    — sangat minat tentang alam bebas dan 
        pemain ski.
2) Yuri Krivonischenko, 23 tahun
     — teman hiking Dyatlov.
     — jurusan konstruksi dan hidrolik. 
3) Yuri Yudin, 21 tahun
     — mahasiswa ekonomi
4) Yuri Doroshenko, 21 tahun
     — jurusan teknik radio
     — si impulsif dan tak mengenal takut.
5) Zinaida Kolmogorova, 22 tahun
     — jurusan teknik radio. 
6) Lyuda Dubinina, 20 tahun
     — jurusan jurusan teknik dan ekonomi.
     — penyuka fotografi, yang memotret 
         petualangan mendaki.
7) Alexander Kolevatov, 24 tahun
     — jurusan fisika.
     — tertarik pada fisika nuklir.
8) Rustem Slobodin, 23 tahun
     — jurusan teknik mesin.
     — menikmati lari jarak jauh.
9) Nikolai Thibeaux-Brignolles, 23 tahun
    — jurusan teknik sipil.
    — si populer di kampusnya.
10) Semyon Zolotaryov, 38 tahun
    — si instruksi ski.

👤 Kenapa di fotonya cuma ada sembilan? 

Itu monumen yang dibikin untuk mengenang Dyatlov Pass yang meninggal, sedangkan Yuri Yudin nggak meninggal. Nanti kita bahas lebih dalam.

Fyi, mereka semua pendaki yang profesional dan berpengalaman. Mereka melakukan pendakian di Gunung Ortoten untuk meningkatkan level mereka. Yang sebelumnya level II menjadi level III (level tertinggi di USSR).

Meskipun kasus ini udah berumur lebih dari setengah abad (61 tahun) namun belum terpecahkan.

 


KRONOLOGI


Pada pagi 23 Januari 1959, mereka bersepuluh menaiki kereta menuju pengunungan Ural di tengah Uni Soviet. 

Beberapa hari kemudian, mereka sering mengganti transportasinya karena semakin lama kondisi jalan semakin terbatas.

Pertama menggunakan truk, lalu gerobak kuda, dan akhirnya berjalan kaki dan ski.


Tanggal 28 Januari 1959, salah satu anggota, si Yuri Yudin mulai merasa sakit dan akhirnya kembali ke base camp awal. Sisanya melanjutkan perjalanannya. Siapa tahu ternyata karena sakitnya itu membuat dia nggak seperti nasib teman-temannya.

[Foto terakhir Yudin bersama temannya.]
Mereka melanjutkan perjalannya dengan mendokumentasi menggunakan buku diari ataupun kamera. Dari foto yang ada, tampaknya mereka masih baik-baik aja. Cuma ada salju tebal, dingin yang menusuk.

1 Februari 1959
Mereka mencapai kaki gunung, diketahui dari orang Mansi, gunung Ortoten artinya adalah Gunung Mati (karena 13.000 tahun yang lalu, gunung tersebut kebanjiran dan menewaskan semua orang). Mereka menghabiskan waktu setengah hari mendaki, dan akhirnya memutuskan untuk mendirikan tenda karena cuacanya buruk. Letaknya hanya ratusan meter dari puncak gunung.


Tidak ada yang tau jika itu adalah tempat kematian mereka.
PENCARIAN

Beberapa minggu kemudian, keluarga mereka mulai khawatir. Tidak mendapatkan kabar dari Igor ataupun yang lain. Tidak mungkin mereka berminggu-minggu di daerah yang sangat dingin. 

Akhirnya tim relawan pergi untuk mencari mereka. 

26 Februari 1959
Tim pencari menemukan tenda di lereng. Mereka mulai berpikir ada yang tidak beres. Tendanya tertutup oleh salju namun barang-barang didalamnya tertata rapi. Tapi tendanya terdapat robekan pisau dari dalam.
Besoknya, ditemukan jejak kaki dari pendaki. Tim relawan pun mengkuti jejaknya dan sampai di hutan terdekat.

Para tim menerka jika para pendaki menuruni lereng dengan tenang dan tertib, tidak berlari karena panik. Jejak kaki bisa dilacak sekitar setengah kilometer dari tenda sampai jejaknya tertutupi oleh salju.
Mereka kemudian menemukan hutan dan melihat pohon cemara di tepi hutan sebelah sisa-sisa api unggun. Tak disangka, mereka menemukan mayat Yuri Doroshenko dan Yuri Krivonischenko yang telah beku. 
Anehnya, mereka hanya menggunakan kemeja tipis, celana, dan kaus kaki. 

Kematian mereka suhu sudah setikar 30 °C. Pohon cemara memiliki tanda kerusakan seperti seseorang telah memanjatnya. Diduga mereka memanjat untuk melihat keadaan atau sembunyi dari sesuatu atau seseorang.


Dibutuhkan waktu dua bulan untuk menemukan mereka bersembilan.

Penemuan kedua lebih baik dibanding sebelumnya. Mayatnya berpakaian lebih lengkap. Masih ada jaket, sarung tangan, dan topi. Mereka semua ditemukan menghadap tenda, seolah-olah sedang berjuang untuk kembali ke tenda. 

Beberapa dari mereka mengalami luka ringan, kelima korban meninggal karena hipotermia, dimana tubuh kalian tidak bisa menghasilkan panas.
Empat pendaki sisanya ditemukan di bagian bawah bukit kecil, ditutupi oleh 3-4 meter salju, 75 meter dari pohon, dan berlawanan arah dari tenda. 

Tiga dari mereka terluka sangat parah, salah satu tengkoraknya retak dan dua lainnya mengalami keretakan di rusuk dan pendarah internal besar-besaran. Tim medis mengatakan jika hal itu bisa terjadi saat orang ditabrak mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. 

Cedera yang didapatkan mereka terjadi karena terjatuh ke bukit kecil yang dibawahnya terdapat batu dan es. 

Dua korban ditemukan dengan soket mata yang menganga dan salah satu wanita lidahnya menghilang.
Lyudmila Dubinina kehilangan mata, lidah, sebagian jaringan wajah, bibir dan juga sedikit tengkorak (ditemukan kulitnya melepuh). 

Keempar korban memiliki hidung yang patah dan leher cacat namun meninggal akibat hipotermia.

Hal yang paling misterius saat tiga set pakaian korban ditemukan dengan radioaktif yang tinggi.
Pada tanggal 28 Mei 1959, kasus ini ditutup dengan kesimpulan yang tidak jelas.

"Penyebab kematian adalah kekuatan yang tidak diketahui yang tidak bisa dilawan oleh pendaki"
— Lev Ivanov. 

Bukan jawaban yang sangat logis dan tidak memuaskan.
TEORI

Untuk masalah lidah yang hilang, beberapa orang mengira itu terputus saat masih hidup atau dimakan oleh hewan buas setelah mati. 

Tapi, catatan medis menuliskan:
"Diagfragma mulut dan lidah hilang"  

Hanya itu, tidak ada penjelasan yang lebih lanjut. Membuktikan jika itu adalah detail yang tidak terlalu penting. Jika penting, pasti akan dijelaskan lebih dalam dan rinci.
3 set pakaian yang terkandung radioaktif tinggi. Perlu diingat jika semua barang terdapat sedikit radioaktif. Nah, kita bahas hal ini lebih dalam.

Area seluas 150 cm² tidak boleh melebihi 5000 disintegrasi per menit (dpm), hanya tiga pakaian yang melebihi 5000 dpm. 

— 5000 dpm
— 5600 dpm
— 9900 dpm
Membuktikan jika ketiga pakaian tersebut memiliki radioaktif yang tinggi.

"Pakaian terkontaminasi oleh debu radioaktif yang terjatuh dari atmosfer atau pakaian tersebut rentan terhadap kontaminasi ketika dikontak dengan zat radioaktif." 

Jika kasus itu bukan karena unsur alami, masih ada jalan alternatifnya. 
Perlu diketahui jika pakaian itu milik Kolevatov dan Krivonischenko.

Mereka berdua bekerja di bidang nuklir, yang notabennya memiliki radioaktif tinggi.
ADANYA UFO? 

Sekitar waktu hilangnya pendaki, ada beberapa orang mengatakan mereka melihat UFO dalam bentuk cahaya yang melintasi langit malam selama beberapa detik hingga menit. 

Tiga tentara dan dua kelompok pendaki melihat hal itu. Beberapa saksi juga mengatakan jika penduduk Mansi dan beberapa ahli geologi mengatakan melihat bola api di langit sekitar waktu kejadian. 

Namun, penampakan UFO itu belum fix dan teridentifikasi.
Ini foto yang didapatkan oleh salah satu kamera pendaki. 

Sayangnya, foto tersebut tidak jelas seperti UFO. Dan bisa jadi itu adalah foto lilin. 

Nah, buat kalian yang liat, jika foto dari langit malam, apa yang bisa digambarkan? Mungkin
— roket
— pecahan roket
— benda buatan manusia yang masuk ke 
    atmosfer dari luar angkasa
— pesawat jatuh
— meteor

Tidak mengejutkan lagi, karena Uni Soviet sedang ada di perang dingin dan berlomba untuk mencapai luar angkasa. 

Gimanapun juga, benda itu nggak mungkin mendarat dekat pendaki karena akan ditemukan oleh tim pencari. Jika ditemukan juga, harusnya udah ada bukti berupa jejak.

Jadi, nggak ada kaitannya 'UFO' ini dengan para pendaki.
Teori lainnya ada yang menyebutkan mereka diserang oleh penduduk lokal, Mansi. Namun dibantar karena jejak cuma ada milik para pendaki.

Kedua, ada longsoran salju, namun dibantah lagi karena tidak ada tanda longsor. 

Ketiga, adanya infrasonik. Dari buku Dead Mountain, mengatakan jika angin yang bertiup melewati Gunung Kholat Syakhl (Gunung Ortoten) menyebabkan ketidaknyamanan di tubuh. Karena bunyi dari angin itu emang serem banget. 

Keempat, adanya keterlibatan militer Soviet. Di buku Mountai of the Death, mengatakan jika mereka berkemah dilahan pelatihan bom udara soviet. Mereka terbangun usai satu bom meledak, dan akhirnya keluar dengan pakaian seadanya menuju daerah hutan dan tidak bisa kembali.
Faktanya, saat itu memang ada bom soviet. 

Terakhir, ada serangan dari yeti. Makhluk menyerupai kera raksasa dengan bulu putih san mata merah menyala, si penghuni Siberia, Himalaya dan daerah pengunungan Asia Timur. 
Bukan sun go kong ya.

Gabisa dipungkiri ya kalau banyak teorinya, kan udah saya bilang kalau ada sekitar 75 teori untuk kasus ini.
Menurut pendapat dari LEMMiNO, yang saya percayai juga dan paling masuk akal itu adalah, 

Mereka meninggalkan tenda karena adanya ancaman dari dalam tenda.

Kalau semisal ada UFO, gamungkin kan mereka merobek tenda dari dalam. Kalau mau liat UFO ya tinggal keluar aja, gaperlu dirobek. 

Hal lainnya, yaitu longsor. Udah saya sebutkan tadi kalau tidak ada longsor. Jika ada, jejak mereka pasti akan nggak beraturan, sedangkan jejak mereka itu sangat rapih.

Coba lihat tanda merah, itu adalah pipa yang muncul dari pintu masuk tenda adalah pipa asap dari kompor internal yang dibuat oleh Igor Dyatlov. 

We know they had used the stove on the night inside the tent before the accident happened. Gimana kok bisa tau? Soalnya ada bekas daging gorengan didalam tenda. 

Si LEMMiNO ini mikir kalau setelah kompornya dibongkar dan pipa asapnya juga dibongkar, bara didalam kompornya nggak sengaja nyala kembali. Karena pipa asapnya udah diambil, asap pun meluas dengan sangat cepat didalam tenda. 

Untuk mengontrol apinya, mereka akhirnya memotong beberapa bagian di tenda agar membentuk lubang dan asapnya bisa keluar. 

Tapi, itu tidak terlalu efektif, akhirnya mereka kesusahan bernapas dan mereka kabur dalam keadaan panik. 

Dan juga, beberapa anggota grup ditemukan dengan luka bakar di badan dan pakaian mereka. Bisa jadi luka bakar didapati dari api unggun di bawah pohon cemara, atau dari tenda tadi.
Ada juga beberapa dari mereka ditemukan darah disekitar mulut dan batuk darah karena gejala menghirup asap. 

Nah, foto diatas itu diambil sehari sebelum mereka meninggal. 

Jaketnya terbakar mungkin aja karena masalah kompor tadi itu.
Setelah keluar dari tenda, mereka sedang di keadaan yang sangat genting. 

Suhu dibawah nol, tidak ada ada tempat berlindung, kekurangan pakaian, di tengah badai salju, di tengah malam, tidak ada manusia selain mereka. 

Asap di tenda sudah mustahil untuk ditinggali lagi. Jadi mereka pergi ke hutan dan membuat perapian. 

Dua orang tinggal di bawah pohon cemara, sisanya masuk ke hutan lebih dalam. Sekitar 75 meter dari pohon, empat dari mereka memicu longsoran kecil membawa mereka ke tepian jurang setinggi 3 meter. Karena dibawahnya ada batu dan es, maka mereka mengalami cedera yang mematikan. 

Tiga dari lima pendaki lainnya memutuskan kembali ke tenda, dan dua sisanya perlahan membeku disekitar api yang lambat laun padam.
Setelah 50 tahun berlalu, kasus ini kembali dibuka. 

Menurut saya, ini bukan kematian yang disebabkan oleh hal-hal gaib tak kasat mata. Tapi dari kesalahan mereka sendiri. But who knows? I'm not The God, not one of them. 

Gimana menurut kalian? Isi di board ya, saya suka bacain pendapat kalian??

Untuk hari ini mimin post 2 kasus aja ya,dan besok juga upload lagi oke :)







Comments

Popular posts from this blog

Gove confirms mandatory housebuilding targets for councils will be abolished in face of Tory rebellion – UK politics live

Kotak Mahindra Bank Recruitment 2022 Released for Graduate Candidates And Apply Online